WELCOME !!!!!

Selamat datang di dunia De Says....

Selasa, 06 April 2010

FARMAKOLOGI DM

FARMAKOLOGI PADA DIABETES MELITUS


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes mellitus merupakan penyakit menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal. Apabila dibiarkan tidak terkendali, diabetus mellitus dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat fatal, misalnya terjadi penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan dan lain-lain.

Menurut data stastistik tahun 1995 dari WHO terdapat 135 juta penderita diabetes mellitus di seluruh dunia. Tahun 2005 jumlah diabetes mellitus diperkirakan akan melonjak lagi mencapai sekitar 230 juta. Angka mengejutkan dilansir oleh beberapa Perhimpunan Diabetes Internasional memprediksi jumlah penderita diabetes mellitus lebih dari 220 juta penderita di tahun 2010 dan lebih dari 300 juta di tahun 2025.

Dari data WHO di tahun 2002 diperkirakan terdapat lebih dari 20 juta penderita diabetes mellitus di tahun 2025. tahun 2030 angkanya bisa melejit mencapai 21 juta penderita. Saat ini penyakit diabetes mellitus banyak dijumpai penduduk Indonesia. Bahkan WHO menyebutkan, jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia menduduki ranking empat setelah India, China, dan Amerika Serikat.

Apoteker, terutama bagi yang bekerja di sektor kefarmasian komunitas, memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Membantu penderita menyesuaikan pola diet sebagaimana yang disarankan ahli gizi, mencegah dan mengendalikan komplikasi yang mungkin timbul, mencegah dan mengendalikan efek samping obat, memberikan rekombinasi penyesuaian rejimen dan dosis obat yang harus dikonsumsi penderita bersama-sama dengan dokter yang merawat penderita, yang kemungkinan dapat berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan kondisi penderita, merupakan peran yang sangat sesuai dengan kompetensi dan tugas seorang apoteker. Apoteker dapat juga memberikan tambahan ilmu pengetahuan kepada penderita tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kondisi dan pengelolaan diabetes.

Diabetes mellitus sendiri didefinisikan sebagai suatu penyakit dan gangguan metabolisme kronis dengan multi etilogi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau difisiensi produk insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang reponsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).

B. Tujuan

- Menambah ilmu pengetahuan mengenai farmakologi khususnya dalam ilmu keperawatan.

- Mengaplikasikan dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien.

- Melengkapi tugas farmakologi.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

· DM adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi insulin atau penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular dan neuropati. ( Sukandar, 2008 )

· DM adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolic akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop electron.

( Mansjoer, 2001 )

B. Etiologi

Insulin Dependen Diabetes Mellitus (IDDM) atau Diabetes Melitus Tergantung Insulin (DMTI) disebabkan oleh destruksi sel β pulau Langerhands akibat proses autoimun. Sedangkan Non Insulin Dependen Diabetes Mellitus (NIDDM) atau Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin (DMTTI) disebabkan kegagalan relative sel β dan resistensi insulin.

Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa untuk jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel β tidak mampu mengimbangi resisitensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relative insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel β pancreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa. (Mansjoer, 2001 )

C. Manifestasi Klinis

DM tipe I

1. penderita DM tipe 1 biasanya memiliki tubuh yang lurus dan cenderung berkembang menjadi diabetes ketoasidosis (DKA) karena insulin sangat kurang disertai peningkatan hormone glukagon.

2. sejumlah 20-40% pasien mengalami DKA setelah beberapa hari mengalami poliuria, polidipsia, polifagia, dan kehilangan bobot badan.

DM tipe II

1. pasien dengan DM tipe 2sering asimtomatik. Munculnya komplikasi dapat mengidentifikasikan bahwa pasien telah menderita DM selama bertahun-tahun, umumnya muncul neuropati.

2. pada diagnosis umumnya terdeteksi adanya letargi, poliuria, nokturia dan polidipsia sedangkan penurunan bobot badan secara signifikan jarang terjadi.

( Sukandar, 2008 )

D. Patofisiologi

DM Tipe 1 (IDDM) terjadi pada 10% dari kasus diabetes. Secara umum, DM tipe ini berkembang pada anak – anak atau pada awal masa dewasa yang disebabkan oleh kerusakan sel β pancreas akibat autoimun, sehingga terjadi defisiensi insulin absolute. Reaksi autoimun umunya terjadi setelah waktu yang panjang (9-13 th) yang ditandai oleh adanya parameter – parameter sistem imun ketika terjadi kerusakan sel β. Hiperglikemia terjadi bila 80-90% dari sel β rusak. Penyakit DM dapat menjadi penyakit menahun dengan resiko komplikasi dan kematian. Factor – faktor yang menyebabkan terjadinya autoimun tidak diketahui, tetapi proses itu diperantarai oleh makrofag dan limfosit T dengan autoantibody yang bersirkulasi ke berbagai antigen sel β (misalnya antibody sel islet, antibody insulin).

DM tipe 2 (NIDDM) terjadi pada 90 % dari semua kasus diabetes dan biasanya ditandai dengan resistensi insulin dan defisiensi insulin relative. Resistensi insulin ditandai dengan peningkatan lipolisis dan produksi asam lemak bebas, peningkatan produksi glukosa hepatic, dan penurunan pengambilan glukosa pada otot skelet. Disfungsi sel β mengakibatkan gangguan pada pengontrolan glukosa darah. DM tipe 2 lebih disebabkan karena gaya hidup penderita diabetes (kelebihan kalori, kurangnya olahraga, dan obesitas) dibandingkan pengaruh genetik.

( Sukandar, 2008 )

E. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penyaring perlu dilakukan pada kelompok dengan resiko tinggi DM, yaitu kelompok usia dewasa tua (>40 tahun), obesitas, tekanan darah tinggi, riwayat keluarga DM , riwayat kehamilan dengan berat badan bayi lahir >4000g, riwayat DM pada kehamilan, dan dislipidemia.

Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu, kadar glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) standar. Untuk kelompok resiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaringnya negative, perlu pemeriksaan penyaring ulangan tiap tahun. Bagi pasien berusia >45 tahun tanpa factor resiko, pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3 tahun.

Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl)


Bukan DM

Belum pasti DM

DM

Kadar glukosa darah sewaktu

Plasma vena

Darah kapiler

Kapiler glukosa darah puasa

Plasma vena

Darah kapiler


110-199

90-199

110-125

90-109

>200

>200

>125

>110

Cara pemeriksaan TTGO, adalah :

1. Tiga hari sebelum pemeriksaan pasien makan seperti biasa.

2. Kegiatan jasmani sementara cukup, tidak terlalu banyak.

3. Pasien puasa semalam selama 10-12 jam.

4. Periksa glukosa darah puasa.

5. Berikan glukosa 75 g yang dilarutkan dalam air 250 ml, lalu minum dalam waktu 5 menit.

6. Periksa glukosa darah 1 jam dan 2 jam sesudah beban glukosa.

7. Selama pemeriksaan, pasien yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.

( Mansjoer, 2001 )

F. Komplikasi

1. Akut

a. Koma hiperglikemia

b. Ketoasidosis

c. Koma hiperosmolar nonketotik

2. Kronis

a. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak

b. Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati diabetic, nefropati, diabetic

c. Neuropati diabetic

d. Rentan infeksi, seperti tuberculosis paru, gingivitis dan infeksi saluran kemih

e. Kaki diabetic

( Mansjoer, 2001 )

G. Mekanisme kerja dan golongan obat-obatan DM

1. INSULIN

Mekanisme kerja :

Insulin menurunkan kadar gula darah dengan menstimulasi pengambilan glukosa perifer dan menghambat produksi glukosa hepatik.

Farmakokinetik Berbagai Insulin dan nama Sediaan :

Jenis Insulin

Mulai kerja jam

Puncak efek (jam)

Lama kerja (jam)

Nama Sediaan

Kekuatan

Kerja singkat

0.5

0.5

1-3

2-4

8

6-8

Actrapis HM

Actrapis HM

Penfil

40 UI/ml

100 UI/ml

Kerja sedang (NPH=isophan)

1-2

6-12

18-24



Kerja sedang mulai kerja singkat

0.5

2.5

4-12

7-15

24

24

Insulatard HM

Insulatard HM

Penfil

Monotard HM

40 UI/ml

100 UI/ml

40 UI/ml

100 UI/ml

Kerja lama

4-6

14-20

24-36

Protamind zinc

Sulfat


Sediaan campuran

0.5

0.5

0.5

1.5-8

1-8

1-8

14-16

14-15

14-15

Humulin 20/80

Humulin 30/70

Humulin40/60

Mixtard 30/70

Penfil

40 UI/ml

100 UI/ml

40 UI/ml

100 UI/ml


INSULIN

Indikasi : DM tipe 1, tipe 2 yang gula darahnya tidak dapat dikendalikan dengan

diet dan antidiabetik oral, DM dengan komplikasi akut, DM paskabedah

pancreas, ketoasidosis, dan koma hiperosmolar, DM dengan kehamilan.

Peringatan : Kadar gula darah di pantau

Interaksi obat: Sejumlah obat dapat meningkatkan atau menurunkan efek hipoglikemik,

penyesuaian dosi insulin dapat digunakan bersamaan dengan obat ini.

Efek samping: hipoglikemia, reaksi alergi

Obat Yang Menurunkan Efek Hipoglikemik Insulin :

· Kontrasepsi oral

· Kortikosteroid

· Siklofostamid

· Danazol

· Dekstrotirosin

· Diltiazem

· Diuretika

· Dobutamin

· Epinefrin

· Nikotin

· Fenotiazin

· Fenitoin

· Progesterone (kontrasepsi oral)

· Inhibitor protease

· Somatropin

· Terbutalin

· Diuretic tiazin

· Hormone tiroid

Obat Yang Meningkatkan efak Hipoglikemik Insulin :

· ACE Inhibitor

· Alcohol

· Anabolic steroid

· Antidiabetik oral

· Beta bloker

· Kalsium

· Klorokuin

· Klofibrat

· Klonidin

· Disopiramid

· Fluoksetin

· Fibrat

· Guanetidin

· Litium karbonat

· MAO inhibitor

· Mebendazol

· Pentamidin

· Pentosifilin

· Fenilbutazon

· Propoxiten

· Piridoxin

· Salisilat

· Analog somatostatin (oktreotid)

· Sulfin pirazon

· Sulfonamide tetrasiklin

2. SULFONILUREA

Indikasi : Obat golongan sulfonylurea dengan cepat menjadi pengobatan utama

diabetes tipe 2.

Interaksi obat: Sulfonylurea bekerja merangsang sekresi insulin pada pancreas sehingga

hanya efektif bila sel beta pancreas masih dapat bereproduksi.

Peringatan : Sulfonylurea sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil atau menyusui

dan pasien-pasien yang elergi terhadap obat golongan sulfa

Efek samping: Kenaikan berat badan, dan retensi air.

a. KLORPROPAMID

Indikasi : NIDDM ringan – sedang

Kontraindikasi : Wanita menyusui, polifiria, dan ketoasidosis

Peringatan : Penggunaan harus hati – hati pada pasien usia lanjut, gangguan

fungsi hati dan ginjal.

Efek Samping : Gejala saluran cerna dan sakit kepala. Gejala hematologic

termasuk trombositopenia, agranulositosis, dan anemia dapat terjadi walau jarang sekali. Klorpropamin dapat meningkatkan Anti Diuretik Hormon (ADH) dan dengan frekuensi sangat jarang menyebabkan hiponatremia dan fotosensitivitas. Hipoglikemia dapat terjadi bila dosis tidak tepat atau diet terlalu ketat : juga pada gangguan fungsi hati / ginjal atau pada orang usia lanjut.

Sediaan beredar : Diabenese Pfizer, Tesmel Phyto Kemo Agung

b. GLIKAZID

Indikasi, Kontraindikasi, Peringatan, Efek Samping : Lihat Klorpropamid.

Sediaan beredar : Diamicron Senvier Darya Varia, Glibet Dankos, GLICAB Tempo

Scan Pacific, Glidabet Kalbe Farma, Glikatab Rocella Lab, Glukodex Dexa Medica, Glumeko Mecosin, Gored Bernofarm, Linodiab Pyridam, Nufamicron Nufarindo, Pedab Otto, Xepabet Metiska Farma, Zibet Meprofarm, Zumadiac Prima Hexal.

c. GLIBENKLAMID

Sinonim : Gliburid

Indikasi, Kontraindikasi, Peringatan, Efek Samping : Lihat Klorpropamid.

Sediaan beredar : Abenon Herioc, Clamega Emba Megafarma, Condiabet

Armoxindo, Daonil Aventis, Diacella Rocella, Euglucon Boehringer Manheim Phapros, Fimediab First medipharma, Glidanil Mersi, Gluconic Nicholas, Glimel Merk, Hisacha Yekatria Farma, Libronil Hexpharm Jaya, Latibet Ifars, Prodiabet Bernofarm, Prodiamel Corsa, Renabetic Fahrenheit, Semi-Daonil Aventis, Semi-Euglucon Pharpros Boehringer Mannheim.

d. GLIPIZID

Indikasi, Kontraindikasi, Peringatan, Efek Samping : Lihat Klorpropamid.

Sediaan beredar : Aldiab Merk, Glucotrol Pfizer, Glyzid Sunthi Sepuri, Minidiab

Kalbe Farma.

e. GLIKUIDON

Indikasi, Kontraindikasi, Peringatan, Efek Samping : Lihat Klorpropamid.

Sediaan beredar : Glurenirm Boehringer Ingelheim.

f. GLIMEPIRID

Indikasi, Kontraindikasi, Peringatan, Efek Samping : Lihat Klorpropamid.

Sediaan beredar : Amaryl Aventis

g. TOLBUTAMID

Indikasi, Kontraindikasi, Peringatan, Efek Samping : Lihat Klorpropamid.

Sediaan beredar : Recodiabet Global.


Interaksi obat golongan sulfonylurea :

Obat A

Obat B

Efek yang terjadi

Deskripsi

Androgen, antikoagulan, antifungal azol, kloramfenikol, klofibrat, fenfluramin, antagonis histamine H2, garam magnesium, metildopa, inhibator MAO, probenesid, salsilat, sulfinpirazon, sulfonamide, antidepresan trisklik, pengasam urin.

Sulfonilurea

Peningkatan efek sulfonilurea

Efek hipoglisemik meningkat akibat berbagai mekanisme seperti penurunan metabolic hepatic, hambatan ekskresi renal, pengusiran dari ikatan protein, penurunan glukosa darah, perubahan metabolism karbohidrat. Saran harus dimonitor kadar gula darah.

Betabloker, pemblok celah kalsium, kolestiramin, kortikosteroid, diazoksid, estrogen, hidantoin, isoniazid, asam nikotinat, kontrasepsi oral, fenotiazin, rifampim, simpatomimetik, diuretic tiazid, agen tiroid, pembasa urin.

Sulfonilurea

Penurunan efek sulfonilurea

Efek hipoglisemik menurun, akibat berbagai mekanisme yaitu peningkatan metabolism hepatic, penurunan pelepasan insulin, peningkatan ekskresi urin.

Karbon aktif

Sulfonilurea

Penurunan efek sulfonilurea

Karbon aktif mereduksi absorpsi sulfonilurea.

Siprofloksasin

Gliburid

Peningkatan efek Sulfonilurea

Terjadi potensial efek hipoglikemik

Etanol

Sulfonilurea

Efek bervariasi

Etanol memperpanjang lama penurunan glukosa darah oleh glipizid ( tidak memperbesar ), etanol kronis menurunkan t ½ tolbutamid Etanol dengan klorpropamid menimbulkan reaksi seperti disulfiram.

Klorpropamid

Barbiturat

Peningkatan efek Sulfonilurea

Efek barbiturat diperpanjang pada uji dengan hewan.

Gliburid

Antikoagulan

Peningkatan atau penurunan efek Sulfonilurea

Laporan menunjukan bahwa efek kumarin dapat meningkat atau menurun jika bersamaan dengan gliburid.

Sulfonilurea

Glikosida digitalis

Peningkatan efek Sulfonilurea

Kadar serum glikosida digitalis meningkat.


Data farmakokinetik antidiabetika oral :

Nama Generik

Durasi kerja ( jam )

Metabolisme atau catatan terapi

Sulfonilurea

Asetoheksamid

Sampai 16

Dimetabolisme di hati; potensi metabolit sebanding dengan senyawa utama; dieliminasi di ginjal

Klorpropamid

Sampai 72

Dimetabolisme di hati dan diekskresikan dalam bentuk tidak berubah di ginjal.

Tolazamid

Sampai 24

Dimetabolisme di hati; metabolit kurang aktif dibandingkan senyawa utama; dieliminasi di ginjal.

Glipzid

Sampai 20

24

Dimetabolisme di hati menjadi metabolit inaktif.

Bentuk lepas lambat; tablet jangan dipotong.

Gliburid

Sampai 24

Dimetabolisme di hati; dieliminasi ½ di ginjal dan ½ di feses.

Gliburid, mikronais

Sampai 24

Diabsorbsi lebih baik dalam bentuk mikronize

Glinetri

24

Dimetabolisme di hati menjadi metabolit inaktif.

Secretagogues insulin kerja pendek

Nateglinid

Sampai 4

Dimetabolisme di sitokrom P450 2C9 dan 3A4 menjadi metabolit aktif lemah, dieliminasi di ginjal.

Repaglinid

Sampai 4

Dimetabolisme di CYP 3A4 menjadi metabolit inaktif, diekskresikan di saluran empedu.

Biguanida

Metformin

Sampai 24

Tidak terjadi metabolism, disekresikan dan diekskresikan di ginjal.

Metformin lepas tertunda

Sampai 24

Diminum pada makan malam atau dosis bias dibagi; bisa dicoba dosis jika terjadi intoleransi untuk pelepasan immediet.

Tiazolidindion

Pioglitazon

24

Dimetabolisme di CYP2C8 dan 3A4; 2 metabolit memiliki waktu paruh lebih panjang dibandingkan senyawa utama.

Rosiglitazon

24

Dimetabolisme di CYP2C8 dan 2C9 menjadi metabolit inaktif yang diekskresikan di renal.

Penghambat α-glukosidase

Akarbose

1 – 3

Dieliminasi di empedu

Miglitol

1 – 3

Dieliminasi di renal

Produk kombinasi

Gliburid/metformin

Pengobatan kombinasi

Digunakan pada terapi awal 1,25/250 mg 2 kali sehari

Glipizid/metformin

Pengobatan kombinasi

Digunakan pada terapi awal 2,5/250 mg 2 kali sehari

Rosiglitazon/metformin

Pengobatan kombinasi

Disetujui oleh FDA sebagai terapi tahap kedua tetapi bisa digunakan sebagai terapi utama

Dosis obat antidiabetika oral :

Nama Generik

Dosis awal yang direkomendasi mg/hari

Dosis terapi ekivalen mg

Dosis maksimum mg

Non-lansia

Lansia

Sulfonilurea

Asetoheksamid

250

150 – 250

500

1500

Klorpropamid

250

100

250

500

Tolazamid

100 – 250

100

250

1000

Tolbutamid

1000 – 2000

500 – 1000

1000

3000

Glipzid

5

2,5 – 5

5

40

Glipzid

5

2,5 – 5

5

20

Gliburid

5

1,25 – 2,5

5

20

Gliburid,mikronais

3

1,5 – 3

3

12

Glimepirid

1 – 2

0,5 – 1

2

-

Secretagogues insulin kerja pendek

Nateglinid

120 bersama makanan

120 bersama makanan

-

120 mg

3 x sehari

Repaglinid

0,5 – 1 dengan makanan

0,5 – 1 dengan makanan

-

16

Biguanida

Metformin

500 mg, 2 x sehari

Tergantung fungsi ginjal

-

2500

Metformin lepas lambat

500 – 1000 bersama makan malam

Tergantung fungsi ginjal

-

2500

Tiazolidindion

Pioglitazon

15

15

-

45

Rosiglitazon

2 – 4

2

-

8 mg/hari atau 4 mg 2xsehari

Penghambat α-glukosidase

Akarbose

25 mg 1 – 3 x sehari

25 mg 1 – 3 x sehari

-

25 – 100 mg 3 x sehari

Miglitol

25 mg 1 – 3 x sehari

25 mg 1 – 3 x sehari


25 – 100 mg 3 x sehari

Produk kombinasi

Gliburid/metformin

2,5 – 5/500, 2 x sehari periksa fungsi ginjal

1,25/250, 2 x sehari

-

20/2000

Glipizid/metformin

2,5 – 5/500, 2 x sehari periksa fungsi ginjal

2,5/250

-

-

Rosiglitazon/metformin

1 – 2/500, 2 x sehari

1/500 2 x sehari

-

8/2000

3. BIGUINIDA ( METFORMIN )

Mekanisme kerja

Biguinda bekerja menghambat glukoneogenesis dan meningkatkan penggunaan glukosa di jaringan.

Data farmakokinetik

Bioavaibilitas absolute metformin IR 500 mg yang diberikan dalam kondisi puasa adalah sekitar 50 – 60 %. Makanan menghambat absorbs metformin. Metformin diekskresikan tidak berubah ke dalam urin dan tidak mengalami metabolism hepatic atau ekskresi melalui kantung empedu. Waktu paruh eliminasi sekitar 17,6 jam.

METFORMIN HIDROKLORIDA

Indikasi : NIDDM yang gagal dikendalikan dengan diet dan sulfonylurea,

terutama pada pasien yang gemuk

Kontraindikasi : Gangguan fungsi ginjal atau hati, predisposisi asidosis laktat,

gagal jantung, infeksi atau trauma berat, dehidrasi, alkoholisme, wanita hamil, dan wanita menyusui.

Peringatan : Biguinida sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil atau

menyusui, dan pasien-pasien yang elergi terhadap obat golongan sulfa

Efek samping : Mual, muntah, anoreksia dan diare yang selintas, asidosis laktat,

gangguan penyerapan vitamin B12

Sediaan beredar : Benofomis Bernofarm, Bestab Yekatria, Diabex Combiphar,

Eraphage Guardian, Formell Alpharma, Glucotica Ikapharmindo, Glucophage Merk, Gludepatic Frahrenheit, Glumin Dexa Nedica, Methpica Tropica Mas, Neodipar Aventis, Rodiamet Rocella, Tudiab Meprofarm, Zumamet Prima Hexal.

Interaksi obat golongan Biguanida :

Obat A

Obat B

Efek yang terjadi/deskripsi

Alkohol

Metformin

Alkohol mempotensiasi efek metformin pada metabolism laktat. Peringatan pasien tidak menggunakan alcohol selama menggunakan metformin.

Obat kationik ( amilorid, digoksin, morfin, prokainamid, kinidin, kinin, ranitidine, triateren, trimetoprim, vankomisin )

Metformin

Secara teori obat kationik yang dieliminasi melalui ginjal poteensial berinteraksi dengan metformin dengan berkompetensi pada system sekresi/transport tubular, kadar metformin dapat meningkat, kadar metformin harus dimonitor dan dilakukan pengaturan dosis metformin.

Simetidin

Metformin

Simetidin meningkatkan kadar puncak plasma metformin 60% dan AUC 40%, terjadi hambatan ekskresi metformin.

Furosemid

Metformin

Furosemid meningkatkan kadar plasma metformin, Cmax meningkat 22% dan AUC 15%, perubahan ekskresi renal tidak signifikan. Cmax dan AUC furosemid lebih rendah 31 dan 12%, t ½ terminal turun 32% tanpa perubahan signifikan pada klirens renal furosemid.

Zat kontras iodine

Metformin

Zat kontras iodine parental

Nifedipin

Metformin

Cmax dan AUC metformin meningkat masing-masing 20 dan 9%, jumlah metformin yang diekskresikan ke dalam urin meningkat. Nifedipin meningkatkan absorbs metformin.

Gliburid

Metformin

Pemberian tunggal metformin meningkatkan AUC dan Cmax gliburid tetapi sangat bervariasi.

4. TIAZOLIDINDION

Mekanisme kerja

Tiazolodinion meningkatkan sensitivitas insulin pada otot dan jaringan adipose dan menghambat glukoneogenesis hepatik.

Data farmakokinetik Tiazolidindion :

Parameter

Pioglitazon

Rosiglitazon

Bioavaibilitas


99 %

Cmax1


1 mg2 ; 76 ng/mL

2 mg2 ; 156 ng/mL

8 mg2 ; 598 ng/mL

8 mg3 ; 432 ng/mL

Tmax

2 jam2 pada kondisi puasa

3-4 jam3 ketika ada makanan

1 jam

Pengaruh makanan

Menunda waktu konsentrasi puncak, tetapi tidak mempengaruhi absorbs

28% menurunkan Cmax dan menunda Tmax (1,75 jam); AUC tidak semua berubah

Volume distribusi

≈ 0,63 L/kg 1

17,6 L

Ikatan protein

> 99%

≈ 99,8%

Mekanisme

Hidroksilasi, oksidasi, CYO2C8, CYP3A4, CYP1A1

N-demetilasi, hidroksilasi, konjugasi CYP2C8, CYP2C9 (minor)

Metabolit aktif

MII (turunan hidroksi)4, MII (turunan keto)5, MIV (turunan hidroksi)4

-

Ekskresi

Urin (15-30%)

Urin (64%), Feses (23%)

Waktu paruh eliminasi

3-7 jam

3-4 jam

Bersihan oral

5-7 L/jam

1 mg2 ; 3,03 L/jam

2 mg2 ; 2,89 L/jam

8 mg2 ; 2,85 L/jam

8 mg3 ; 2,97 L/jam

1 pada dosis oral tunggal

2 pada kondisi puasa

3 pada kondisi makan

4 turunan hidroksi pioglitazon

5 turunan keto pioglitazon

a. PIOGLITAZON

Indikasi : Hiperglikemia

Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap pioglitazon

Peringatan : Hentikan terapi jika ditemukan gangguan hati, gangguan jantung,

kehamilan

Interaksi obat : Atovarstatin dan ketokonazol mempengaruhi pioglitazon dan

pioglitazon mempengaruhi atovarstatin, midazolam, nifedipin, kontrasepsi oral

Efek samping : Udem, sakit kepala, hipoglikemia, mialgia, faringitis, sinusitis,

gangguan hati, infeksi saluran pernafasan atas.

Sediaan beredar : Actos Takeda Pharmaceutical.

b. ROSIGLITAZON

Indikasi : Hiperglikemia

Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap rosiglitazon

Peringatan : Hentikan terapi jika ditemukan gangguan hati, gangguan jantung,

kehamilan

Efek samping : Nyeri punggung, sakit kepala, hiperglikemia, luka, sinusitis,

anemia ketika digunakan bersamaan dengan insulin

Sediaan beredar : Avandia Glaxo Smith Kline.

Interaksi obat golongan Tiazodindion :

Obat A

Obat B

Efek yang terjadi

Atorvastatin

Pioglitazon

Pengguanaan bersamaan selama 7 hari dapat meningkatkan kadar serum atorvastatin dan pioglitazon.

Ketokonazol

Pioglitazon

AUC dan Cmax pioglitazon meningkat.

Midazolam

Pioglitazon

Penggunaan pioglitazon 15 hari diikuti dengan midazolam dosis tunggal 7,5 mg terjadi penurunan AUC dan Cmax midazolam sebesar 26%.

Nifedipin

Pioglitazon

Pengunaan pioglitazon dan nifedipin lepas lambat meningkatkan konsentrasi nifedipin. Signifikasi klinik belum diketahui.

Kontrasepsi oral

Pioglitazon

Penggunaan pioglitazon bersama etinilestradion/norethindron selama 21 hari menyebabkan terjadi penurunan AUC etiliestradiol 11% penurunan Cmax 11-14%. Rosiglitazon tidak mempengaruhi efek farmakokinetik hormone tersebut di atas.

5. PENGHAMBAT α-GLIKOSIDASE

Mekanisme kerja obat

Akarbose bekerja menghambat alpha-glukosidase sehingga mencegah penguraian sukrosa dan karbohidrat kompleks dalam usus halus dengan demikian memperlambat dan menghambat penyerapan karbohidrat.

Data farmakokinetik

Konsentrasi plasma puncak akan bertahan 14-24 jam setelah kosumsi obat, sedangkan konsentrasi plasma puncak dari zat aktif akan bertahan sekitar 1 jam. Akarbose dimetabolisme di saluran cerna oleh bakteri intestinal dan enzim pencernaan. Fraksi metabolit ini diabsorbsi ( 34% dari dosis ) dan diekskresikan melalui urin.

a. Akarbosa

Indikasi : Sebagai tambahan terhadapsulforinurea pada DM yang tidak

dapat dikendalikan dengan obat dan diet.

Kontraindikasi : Anak usia di bawah 12 tahun, wanita hamil, wanita menyusui,

colitis ulse – ratif, obstruksi usus, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal berat, hernia, riwayat bedah abdominal

Peringatan : Dapat meningkatkan efek hipoglikemik insulin, bila digunakan

dosis tinggi, transamenase hati perlu dimonitor

Efek samping : Flatulensi, diare, perut kembung dan nyeri, ikterus, hepatitis.

Sediaan beredar : Glucobay Bayer Indonesia.

b. Miglitol

Indikasi, kontraindikasi, peringatan, dan efek samping : Lihat akarbosa.

Sediaan beredar : Glyset ( di Indonesia belum ada )

Interaksi obat golongan inhibitor β Glukosidase :

Obat A

Obat B

Efek yang terjadi

Akarbose

Digoksin

Konsentrasi serum digoksin menurun, efek teraupetik digoksin menurun.

Akarbose

Enzim saluran cerna

( amilase, pankreatin )

Efek akarbose menurun, tidak digunakan bersama.

Akarbose

Absorben/karbon aktif

Efek akarbose menurun, tidak digunakan bersama.

Miglitol

Digoksin

Konsentrasi plasma digoksin menurun 19-26% tetapi pada 1 studi pada pasien diabetes pengguna digoksin bersamaan dengan miglitol 100 mg. 3x sehari selama 14 hari tidak terjadi penurunan konsentrasi plasma digoksin.

Miglitol

Gliburid

Terjadi penurunan AUC Cmax dan AUC gliburid walaupun secara tidak signifikan.

Miglitol

Metformin

Terjadi penurunan AUC dan Cmax metformin 12-13% pada pasien yang menggunakan miglitol dibandingkan terhadap placebo, tetapi secara statistic tidak signifikan.

Miglitol

Propanol

Ketersediaan hayati propanol menurun signifikan 40%.

Miglitol

Ranitidine

Ketersediaan hayati ranitidine menurun signifikan 60%.

Miglitol

Enzim saluran cerna

( amilase, pankreatin )

Efek miglitol menurun, tidak digunakan bersama

Miglitol

Absorben/karbon atif

Efek miglitol menurun, tidak digunakan bersama


BAB III

PENUTUP

A. Saran

- Bacalah Basmalah sebelum memulai tugas.

- Jangan malas mengeksplore ilmu.

- Bagilah waktu sefektif mungkin.

B. Simpulan

Farmakologi pada Diabetes Melitus akan tepat digunakan jika klien mematuhi aturan yang disarankan perawat, tapi terlebih perawat harus menjalankan 10 benar pemberian obat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dari buku

· Mansjoer, Arif dkk.2001.Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3.Jakarta:Media Aesculapius.

· Sukandar, Elin Yulianah dkk.2008.Iso Farmako Terapi.Jakarta:PT.ISFI.

2. Dari web

· http://aliemharahap.blogspot.com/2009/02/farmakologi-diabetes-mellitus.html

· http://saputra83.blog.friendster.com/diabetes-mellitus/

· http://yosefw.wordpress.com/2007/12/27/penggunaan-antidiabetik-oral-gol-sulfonilurea-pada-diabetes-mellitus/

1 komentar:

  1. MGM Grand | The Grand Hotel & Casino - JT Hub
    MGM Grand Hotel & Casino The grand hotel and casino was งานออนไลน์ built 김천 출장안마 to meet modern standards and 전라북도 출장샵 make a perfect 김해 출장마사지 venue for the MGM 하남 출장샵 Grand

    BalasHapus